Download Tesis Pendidikan Agama Islam : Dakwah Kultural; Tela'ah Tradisi Debus sebagai Media Dakwah Islam di Banten

Diposting oleh Unknown on Sabtu, 22 November 2014


Debus merupakan kesenian asli masyarakat Banten yang diciptakan pada abad ke-16, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570) dalam rangka memperkenalkan dan menyebarkan agama Islam di Banten.
Agama Islam diperkenalkan ke Banten oleh Sunan Gunung Jati, salah satu pendiri Kesultanan Cirebon, pada tahun 1520, dalam ekspedisi damainya bersamaan dengan penaklukan Sunda Kelapa. Kemudian, ketika kekuasaan Banten dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah Belanda. Apalagi, di masa pemerintahannya tengah terjadi ketegangan dengan kaum pendatang dari Eropa, terutama para pedagang Belanda yang tergabung dalam VOC.
Permainan debus merupakan bentuk kesenian yang dikombinasikan dengan seni tari, seni suara dan seni kebatinan yang bernuansa magis. Kesenian debus biasanya dipertunjukkan sebagai pelengkap upacara adat, menjamu tamu-tamu kerajaan, atau untuk hiburan masyarakat.
Pertunjukan ini dimulai dengan pembukaan (gembung), yaitu pembacaan sholawat atau lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad, zikir kepada Allah, diiringi instrumen tabuh selama tiga puluh menit. Acara selanjutnya adalah beluk, yaitu lantunan nyanyian zikir dengan suara keras, melengking, bersahut-sahutan dengan iringan tetabuhan.
Bersamaan dengan beluk, atraksi kekebalan tubuh didemonstrasikan sesuai dengan keinginan pemainnya : menusuk perut dengan gada, tombak atau senjata al-madad tanpa luka; mengiris anggota tubuh dengan pisau atau golok; makan api; memasukkan jarum kawat ke dalam lidah, kulit pipi dan anggota tubuh lainnya sampai tebus tanpa mengeluarkan darah; mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tapi dapat disembuhkan seketika itu juga hanya dengan mengusapnya; menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulitnya tetap utuh. Selain itu, juga ada atraksi menggoreng kerupuk atau telur di atas kepala, membakar tubuh dengan api, menaiki atau menduduki tangga yang disusun dari golok yang sangat tajam, serta bergulingan di atas tumpukan kaca atau beling. Atraksi diakhiri dengan gemrung, yaitu permainan alat-alat musik tetabuhan.
Sebuah budaya unik dan luar biasa ini juga memberikan sumbangsih besar dalam memperkenalkan Islam di tanah Banten, sehingga tesis dengan judul, "Dakwah Kultural; Tela'ah Tradisi Debus sebagai Media Dakwah Islam di Banten" merupakan sebuah upaya penelitian demi membuktikan proses dakwah yang terjadi dengan keberadaan debus di Banten. Dalam hal ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan studi lapangan yang bersandar kepada teori-teori dakwah kultural dan pendekatan sosiologis. Dengan kajian teori dan pendekatan penelitian di atas, penulis berharap dapat memberikan sebuah pandangan tentang bentuk dakwah yang ramah dan toleran terhadap budaya lokal.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar