Pola Pembinaan Religiusitas Perilaku Siswa (studi kasus di SMA Negeri

Diposting oleh Unknown on Kamis, 13 November 2014


Keprihatinan terhadap dekadensi moral ibarat sebilah pisau bermata dua. Jika mencari akar masalah pada orang lain (baca: Pendididkan atau lingkungan) pada hakikatnya akar masalah itu bermula dari diri sendiri (baca: pribadi guru dan orang tua), sehingga menyalahkan orang lain berarti pula menyalahkan diri sendiri. Untuk itu perlu dicarikan solusi dan aksi pendidikan arah yang tepat. Penelitian mengenai Pola Pembinaan Religiusitas Perilaku Siswa di SMAN I Mangarabombang, dilakukan berpijak dari keprihatinan tersebut.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan Penomenologis. Sedangkan tempat penelitian yang dipilih adalah SMAN I Mangarabombang yang fokus masalah adalah, 1) religiusitas perilaku siswa di SMA Negeri I Mangarabombang Kabupaten Takalar, 2) implementasi pola pembinaan religiusitas perilaku siswa di SMA Negeri I Mangarabombang Kabupaten Takalar, 3) efektifitas pola pembinaan religiusitas perilaku siswa di SMA Negeri I Mangarabombang Kabupaten Takalar, 4) faktor pendukung dan penghambat pola pembinaan perilaku siswa di SMA Negeri I Mangarabombang Kabupaten Takalar, dan 5) model pola pembinaan religiusitas perilaku siswa.
Hasil penelitian menunjukkan adanya komitmen kuat dari warga SMAN I Mangarabombang dalam upaya pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah tidak berhenti pada wilayah konsep (pengetahuan) tentang religiusitas perilaku siswa, tetapi ada upaya internalisasi, pembiasaan, keteladanan, dan pembinaan berkesinambungan.
Implementasi pola pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah dilakukan dengan dua cara (strategi), yaitu: 1) Instructive sequential strategy, dan 2)Constructive sequential strategy. Pertama, implementasi pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah menekankan pada aspek struktural yang bersifat instruktif, sementara strategi kedua adalah implementasi pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah lebih menekankan pada pentingnya membangun kesadaran diri (self awareness), sehingga diharapkan akan tercipta sikap, perilaku dan kebiasaan religius yang pada akhirnya akan membentuk religiusitas perilaku siswa di sekolah.
Dukungan warga sekolah terhadap upaya pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah berupa: komitmen pimpinan dan guru agama, komitmen siswa, komitmen orang tua/komite sekolah, dan komitmen guru lain. Komitmen dan kerja sama secara sinergis di antara warga sekolah dan dukungan orangtua menjadi kunci keberhasilan dalam pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah.
Hasil penelitian ini menunjukkan masih diperlukan adanya komitmen dan dukungan dari warga sekolah agar pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah tersebut dapat berjalan secara efektif.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar