Home » SKripsi Ushuluddin » Maka Topo Wudo Ratu Kalinyamat dalam Tradisi Lisan Masyarakat Jepara
Maka Topo Wudo Ratu Kalinyamat dalam Tradisi Lisan Masyarakat Jepara
Diposting oleh Unknown on Selasa, 18 Februari 2014
Keberadaan Islam telah membawa satu perubahan begitu dominan di masyarakat, dalam bidang teologi maupun bidang sosial dan kebudayaan. Penyebaran agama Islam tidak serta merta berkembang dengan sendirinya tanpa di dukung oleh tokoh-tokoh Islam yang begitu gigih dalam menyiarkan Islam. Sehingga Islam dikenal oleh masyarakat baik di perkotaan, pesisir, maupun di pedesaan. Kota Jepara adalah salah satu kerajaan yang mempunyai pelabuhan dengan teluk yang aman sehingga kota ini di jadikan jalan alternatif para penyiar agama Islam seperti para Walisongo untuk menyebarluaskan ajaran Islam di pulau jawa termasuk kota jepara. Banyak masalah yang muncul meliputi asal usul dan perkembangan awal Islam di kawasan ini. Masalah-masalah itu muncul tidak hanya karena perbedaan tentang apa yang dimaksud dengan Islam itu sendiri, tetapi yang lebih penting karena sedikitnya data yang memungkinkan kita merekonstruksi suatu sejarah yang bisa dipercaya. Islamisasi nusantara merupakan suatu proses yang bersifat evolusioner manakala Islam segera memperoleh konversi banyak penguasa pribumi, Islam kemudian berkembang ditingkat rakyat bawah, Islamisasi pelbagai kelompok etnis yang hidup di pelbagai wilayah yang berbeda benar-benar bukan merupakan bentuk konversi tunggal dan seragam, melainkan suatu proses panjang menuju kompromi yang lebih besar terhadap ekslusivitas Islam. Pemerintahan Ratu Kalinyamat adalah sejarah kepahlawanan seorang putri sebagai tokoh wanita abad ke-16 yang pernah memiliki armada laut yang luar biasa besarnya maka tak heran jika masa pemerintahannya daerah pesisir utara berada dalam kekuasaannya. Dalam konteks Topo Wudo merupakan bentuk ikhtiar untuk mewujudkan dendam Ratu Kalinyamat. Namun disisi lain dalam konteks sebagai seorang Ratu, tentu setiap perbuatan dalam kehidupannya memiliki makna yang tidak biasa. Topo wudo Ratu Kalinyamat merupakan kejujuran seorang hamba kepada Tuhannya tentang harapan dan permohonan. Telanjang berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tentunya kalau wudo atau telanjang kita artikan secara wujud dhohir tanpa ada pakaian yang menempel di badan sedikitpun, tapi kalau dalam arti hakiki bisa saja seperti di atas adalah sebuah kejujuran sebagai manusia yang tidak ada daya apa-apa kecuali pemberian Sang Pencipta. Jadi penyerahan diri yang dilakukan Ratu Kalinyamat adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan.
Label:
SKripsi Ushuluddin
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar