SATU DUSUN TIGA AGAMA ( Kajian Atas Toleransi Tokoh Agama di Dusun Balun - Lamongan )

Diposting oleh Unknown on Senin, 24 November 2014


Tragedi kemanusiaan akibat kekerasan berlatarbelakang agama merupakan realitas dan fenomena yang selalu terjadi sepanjang sejarah manusia. Disaat kekerasan agama terjadi, maka disaat itu pula toleransi menjadi konsepsi dan strategi yang ditawarkan. Berbagai acara dialog, diskusi dan pertemuan antar tokoh agama kerapkali dilakukan baik oleh pemerintah, organisasi massa dan kaum akademis. Penelitian ini memfokuskan perhatian pada persoalan toleransi antar tokoh agama ditingkat lokal, yakni di Dusun Balun Lamongan. Dalam penelitian ini, terdapat dua rumusan masalah yang menjadi fokus kajian 1) bagaimana masing masing tokoh agama di Balun memaknai konsepsi toleransi 2) bagaimana masing masing agama menjalankan proyeksi toleransi dalam kehidupan mereka. Berdasakan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mendeskripsikan pandangan tokoh agama dalam memaknai persoalan toleransi kehidupan keagamaan berikut berbagai persoalan yang meruanglingkupi. 2) Untuk mendeskripsikan pandangan tokoh agama menjalankan konsepsi dan ajaran toleransi kehidupan keagamaan dilingkungannya.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif analitis dan pendekatan yang digunakan adalah kajian lapangan dan telaah pustaka. Dalam penelitian ini, perspektif teori yang digunakan mengacu pada teori konstruksionisme sosial yang dikembangkan oleh Peter L Berger dan Thomas Luckman. Penggunaan perspektif ini menitikberatkan pada wilayah nilai nilai masing masing tokoh agama baik menyangkut alam pikiran maupun kesadaran yang bersifat subyektif. Alam pikiran dan kesadaran subyektif tersebut merupakan aspek yang dimiliki oleh masing masing tokoh agama sesuai dengan sejarah dan pengalaman kehidupan yang telah berjalan. Dalam memperkuat alam pikiran dan kesadaran subyektif tersebut, beberapa unsur mulai dari kehidupan keluarga, agama, pendidikan dan kebudayaan lokal turut serta memberikan kontribusi bagi kematangan berfikir dan bertindak.
Dalam penelitian ini penulis berhasil mengungkap bahwa makna dan tindakan toleransi keagamaan tersebut merupakan integrasi antara alam pikiran dan kesadaran subyektif yang berasal dari ajaran agama, keluarga dan lingkungan sosial. Beberapa unsur tersebut dikonvergensikan menjadi suatu konsepsi integral yang kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan keagamaan, sosial budaya dan politik. Masing masing sektor kehidupan tersebut berjalan secara dialektis dan integratif dan bukan sebaliknya, bersifat fragmentatif.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar